Sejarah Muhammadiyah di Pulau Punjung Berdiri sampai sekarang
SEJARAH MUHAMMADIYAH
PULAU PUNJUNG
Pada tahun 1932 berencanalah bebrapa orang pemuka masyarakat Pulau Punjung ingin membentuk sebuah sekolah agama yang berdirinya di daerah kita ini tapi itu baru rencana saja.
Pada tahun 1933 datang pengurus Muhammadiyah dari Padang Panjang 3 oarang masing-masingnya bernama Dt. Pokiah Sati, Dt H. Usman dan Dt. Sutan Mankuto. Dan dinanti oleh pemuka masyarakat Pulau Punjung sebanyak 7 Orang masing masingnya bernama Darowi, Kotik Lobiah, Mas’ud Angku Sutan, Abdul Rahman Petapang, Aly Imran, Abdul Wahab dan Pokiah Pencel.
Inilah yang menanti datuk-datuk dari Padang Panjang itu, maka diadaknlah musyawarah pertama di surau Dt. H. Umar, H. Ismail dengan H. Umar. Inilah sebagai alangkah pertamanya. Selesai musyawarah di Surau Dt. H. Umar itu datuk-datuk yang 3 orang dari Padang Panjang suda kembali ke Padang Panjang, tak berapa hari kemudian pemuka masyarakat sedang kebingunganuntuk mendirikan sekolah dan siapakah yang akan menjadi gurunya, tiba Dt. Umar Salim pulang dari rantau dia adlah seorang guru Sekolah Agama di Pdang Sibusuk, maka masyarakat Pulau Punjung menahan Dt. Umar Salim Untuk menjadi guru di kampung sendiri. Dt. Umar Salim inilah guru pertama Muhammadiyah.
Karena belum ada tempat berdirinya Sekolah di Pulau Punjung ini buat sementara diajaklah oleh Angku Kali Sungai Dareh yang bernama Ayah Langrat untuk belajar dirumhnya sendiri yang bertempat di Sungai Dareh, setelah tiga bulan lamanya belajar di rumah Angku Kali Sungai Dareh itu Angku Ajung sangat takut dengan pemerintahan Belanda kalau kalau nantinya Angku Anjung terpanggil oleh pemerintah Belanda taku datang ngeripun tiba.
Maka Angku Anjung memberi nasehat pada Angku Kali Supaya Angku Kali yang bernama Ayah Langrat menyerahkan kembali Sekolah Muhammadiyah ini ke Pulau Punjung, maka pengurus yang bertujuhu tadi tidak berfikir panjang lagi menyerahkan sekolah ini kepada Dt. Umar salim Bagai mana baiknya, maka Dt. Umar Salim sebgai guru pertama diajaklah untuk belajar di suraunya yang baru berdiri yaitu Surau Tinggi maka dikorbankalah sebuah suraunya yang baru itu untuk Muhammadiyah.
Disitulah disusun kepengurusan dari pemuda pemudanya serta kelompok belajar pemuda dikepalai oleh Abdul Wahab dan dibantu oleh beberapa temannya Abdul Talib, Abdul Mai’in dan Rahman Rumah Tanduk.
Kemudian pada tahun 1934 di bebtuklah pengurus Aisyiyah dengan nama-nama Mai Manah, Fatimah dan Soru, setelah disusun pengurus-pengurus barulah dibentuk Kelompok belajar dengan nama-nama Kelompok Parbel, Kelompok Iftidaiyah, Kelompok Tahdir dan Kelompok Menyesal pada kelompok menyesal ada 15 (lima belas) orang dan guru-gurunya pada tahun 1934 : Umar salim Sebagai kepala, Dt. Kocih/Ibrahim, mas’ud Angku Sutan dan Zainal Abidin Jambek. Dengan murit 1. H. Miyam Malayu Darek, 2. H. Muna Melayu Darek 3. H. Fatimah Malayu Tapi Aie 4. H. Salama Petapang 5. Inyik Jonti Surau Kerinci 6. Inyiak Nilam Caniago 7. Inyik Lelome Melayu darek 8. Inyik Mani Omeh Malayu tapi Aie 9. Inyiak Serak Omeh Melayu Tapi Aie 10. Inyik Kobun Malayu Tapi Aie 11. Inyik Tanduk Caniago 12. Inyiak Bekna Mandahiling 13. Inyiak Mamiomeh mandahiling 14. Inyiak andek yang tongga Mandehiling 15. Inyik Manjoni Malayu Tapi Aie.
Setelah belajar di surau tingga selama 4 (empat) bulan lamanya datanglah iAngku Palo beserta Datuak-datuak yang tidak menyukai dengan kejamnya serta ganasnya menggedor-gedor pintu suaru Tinggi itu dengan sangat marah sambil menyebut “Siapa yang berani mendirikan Sekolah ini” dengan berkali kali menyebut demikian.
Terperangahla Dt. Umar Salim yang sadang mengajar didalam surau itu dengan tidak disadarinya langsung membuka pintu dengan beraninya dia jawab sambil menunjuk nunjuk dadanya “saya yang mendirikannya” dengan berkali-kali pula menyebutnya Langsung tangan Angku Palo Menampar Dt. Umar Salim itu, Dt. Umar Salim tidak takut, tidak gentar dia tetap menentang bembalas tamparan tersebut dengan berkali-kali.
Maka terjadilah perkelahian yang sangat hebat sekali antara Angku Palo dengan Dt. Umar Salim itu, murat yang sedang belajar terhenti karena gurunya sedang berantam sengit dengan Angku Palo yang disegani masyarakat, murit-muritnya itu tidak perpikir panjang lagi karena sayang dan kasihan sama gurunya lalu memegang tangan gurunya sambi menagis bersama dan menarik baju gurunya kebelakang, tentu gurunya tidak bisa lagi untuk membalas karena murit memegang tanganya, di situ Dt. Umar salim Mengalah.
Datanglah Ali Imran dengan Abdul Rahman melemparkan kursi ketengah tengah perkelahian itu lalu datuk yang tidak menyukai tadi menyeret tangan orang yang bertiga ke Pemerintahan Belanda, tga orang pengurus kita tanganya dibelenggu masuk penjara Belanda, di tahanan Belanda itu dipaksa bekerja tiap hari di tempat yang panas, makannanya nasi bercampur dengan batu sambalnya 2 cabe 1 bingka garam.
Pada hari Minggu
Pasar sedang ramai sekali semua orang melihat kejadian itu, orang yang bertiga itu di iringi oleh serdadu belanda akan dibawa kesijunjung untuk menjalankan tahannan selanjutnya disana., semua masyarakat yang menyaksikan sangat sedih dan menagis melihat pengurtus kita itu, ketiga tiganya itu dirantai bertiga, Umar Salim yang ditengah tengah, sangatlah pilunya hati kita dalam keadaan tejajah ketaka itu terpaksa juga melepaskannya hanya kita menyerahkan pada yang satu sambil ber doa pada Nya , Allah pasti mendengar segala doa kita.
Sampainya mereka ditahan sijunjung kebiasaan serdadu Belanda da upe Belanda disana semua tahanan yang baru masuk itu akan disuruah sambut dunsanak, tapi berkat doa kita bersama Insaya Allah orang yang beriga itu terhindar dari ancaman itu sehingga oarang yang berda dalam tahanan itu semuanya merasa tuntuk dan tafakur pada oarang yang beriga itu, menjadi sahabat yang akrab mereka disana.
Lamanya tertahan ...............
Umarsalam hanya 3 bulan, Ali Imran dan Abdul Rahman 2 bulan, selama orang bertiga ini masih dalam tahanan di Sijunjung selama itupulah lah harimau di Pulau Punjung menjadi jadi dan di waktu itu pula meninggalnya Rajo Godan di himpit tanah waktu gontoroyong mengambil pasir di Masjid Raya Pasar Lama Pulau Punjung. Setelah mereka kembali dari tahanan, mereka akan bertambah semangat untuk meneruskan langkah langkahnya yang terhenti sejenak. Walaupun dihalangin oleh siapaun, namun semangat mereka tetap berjalan dengan hati kuat walaupun banyak lagi halangan dan rintangan yang dilaluinya, namun niat mereka tetap di teruskan jua sehabis tenaga mereka.
Niat pengurus harus dan yakin
Sebuah sekolah harus berdiri
Walupun cobaan silih berganti
Muhammadiyah tetap abadi
Pada tahun 1936 beransur ansurlah jalannya Muhammadiyah di cabang kita ini semakin hari semakin baik juga sampai pada tahun 1938, pada tahun 1939 Umar salim diutus sebagai utusan untuk mengikuti Kongres Muhammadiyah di Medan. Pada tahun 1940 bertambah bayak jua orang yang menyukai Muhammadiyah ini, disitulah masa Engku sutan bersemangat untuk menjalankan apasaja untuk Muhammadiyah. Pada tahun 1941 mulailah menyusun lokal yang di idam-idamkan Muhammadiyah selama ini.
Disitu berdirinyan Tsanawiyah 4 (empat) tahun disekolah yang lama dan mengadakan sandiwara yang berjudul “ Raja Kenda” yang di perankan oleh Masud Angku Sutan.
Di waktu tahun 1944 yang tamatan Tsanawiyah di waktu itu laki-laki 6 orang dan perempuan 3 oarang yaitu : 1. Adin Kayabu 2 Muhtar Rauf 3 Maliki Dt Rj Penghulu 4 Anurbai 5 Yusuf Nurdin 6 Maria Kubatiah 7 Syofia Rasid dan 8 Jamila Lahmi dengan Kepala Hatip Adami guru-guru 1. Marasid Bonjau, 2. Sohu panjang Daguk, 3. Abdul Wahid, 4. Masud Engku Sutan dan 5. Abdullah Umar. Itulah murit murit yang tamat 4 tahun di Tsanawiyah dan berdirilah ranting Muhammadiyah : 1. Sungai lansek Hilir 2. Siluluk 3. Sungai Kambut 4. Lubuk bulang 5. takung 6. timpeh 7. Kampung Surau 8.
Diwaktu itu sangatlah semangatnya Muhamamdyah dan dia selalu mengadakan pertemuan sebulan sekali di Cabang Muhammadiyah ketika itu katuanya Malik Dt. Lobiah
Pada tahun 1946 Ibrahom Dt Kociki mengikuti musywarah Muhammadiyah ke padang Panjang, dia rela berjalan kaki dari Pulau Punjung sampai ke Muaro Sijunjung dari Muaro Sijunjung naik kereta sampai Padang panjang, di waktu itu masyarkat pulau punjungsangat panatik sekali pada iDt. Kocok yang selalu bekerja di masyarakat tampa menghiraukan yang lain lain, dia selalu memperjuangkan agamasampai akhir hayat.
Pada tahun 1949 sampai 1956 SGB Muhammadiyah memiliki tenaga pendidik Abdullah Umar Sebagai kepla dan Guru-guru 1. Nurhadi Santoso 2. Siswoyo 3. Salim Majin4. Khatib Adami 5. Amir Abu 6. Jailani Suib 7. Asma Salim 8. Badiah 9. Nurfatimah Saleh 10 Basmar 11. Maimuna Zain 12. Salma 13. Zuraida 14. Kamarudin 15 Addin Agge 16. Surdi Hasan 17. Anuar Bai.
Pada tahun 1957 datanglah perang saudara PRRI disinilah terhentinya langkah-langkah Muhammadiyah sejenak sampai mereka kembali pada tahun 1960.
Pada tahun 1960...........
Seorang ibu rumah tangga yang telah cacat kedua tangannya disosong peluru waktu pergolakan PRRI, yang mana ibu tersebut seoarang wanita yang cukup bayak perjuangannya untulk memikirkan masa depan bagi anak-anak kita yang masih di bawah umur, walaupun ibutu rela anggota tubuhnya menjadi cacat, tapi pemikirannya masih tetap untuk membangun generasipenerus.
Beliau selalu berpikir sepanjang hari dan sepanjang malam memikirkan keadaan anak-anak yang sedang putus pendidikan sekolahnya seperti tamat sekolah rakyat (SR) tidak ada sekolah lanjutannya, hannya berhenti begitu saja, ibu itu sangat sedih sekali memikirkan bagai mana untuk pendidikan anak-anak ketika itu, sehingga seketaka itu ibu itu menyampaikan didalam hati nya, jika dibarkan begini terus-menerus apala jadinya kampung kita ini.
Dengan tidak lagi berfikir panjang ibu tersebut mengumpulakn beberapa murid-murid SR yang masih buta dengan ilmu agamalalu mengaja murid SR itu untuk sekolah disurau jambak pada tanggal 3 Desember 1960dengan gurunya ketika itu Darwis Angge dan Maria Kubtiah di mulai belajar pada jam 2 sore, minggu pertama muritnya hanya 14 Oarang, minggu kedua muritnya 27 orang, pada minggu ke 3 muritnya 61 orang dan pada minggu ke murid nya 100 orang, maka dengan bayaknya murid maka dijadikanlah 4 lokal Kelas 1 kelas 2 kelas 3 dan kelas 4 hanya dua orang guru itulah yang mengajar 100 orang murid di sekolah yang belum ada namanya itu, tapi orang kampung memanggilnya sekolah Surau Jambak.
setelah berjalannya pendidikan di surau jambak selama 5 bulan lamanya murid-murid tersebut sangat gembira sekali menerima pelajaran agama sebab sekolah SR belum cukup matapelajaran tentang agama, Rupanya berita berdirinya sekolah tersebut sampai ke Kantor urusan Agama dengan tampa memberikan laporan, pada suatu hari datanglah salah seorang pegawai Kantor urusan Agama itu ke Surau Jambak untuk melihat anak-anak yang sedang belajar itu, waktu Bapak itu datang kekelas III yang sedang menghafal pelajaran Mahfuzat dan kelas IV sedang belajar Muhadasah alangkah senang dan gembiranya hati Bapak itu melihat murid belajar dengan semangat bapak itu memperhatikan dengan senyuman yang begitu indah , setelah murid-murid beristirahat atau pose bapak itu berbicara dengan guru-guru. Bapak itu menyuruh guru-guru mengajak murid murid untyuk bersekolah ke sekolah Muhammadiyah yang lama yang terletak antara pasar lama dengan pelayangan.
Keesokan harinya berbaris barisla murid-murid itu dari surau jambak ke seolah yang lama, sekolah itu suda banyak yang rusak atapnya banyak yang bocor dindingnya bolong-bolong dan berlobang-lobang lantanya banyak yang pecah dari yang tidak pecah sehingga murid-murid itu tercengang dan kaget sekali melihanya, tetapi semenjak kaki murid-murid itu menginjakan kakinya di Muhammadiyah yang begitu adanya hati dan perasaan dari anak-anak tersebut sudah tertanam Muhammadiyah di masing masing diri dan sanubari mereka sehingga jiwanya telah menjadi Kemuhammadiyahan dengan melihat sekolah yang demikian adanya dia akan menerima dengan apa adanya dan belajar dengan semangat yang sangat tinggi brsama guru-gurunya, setiap jam 2 sore sepulangnya dari sekolah rakyat (SR) gurunya suda berda di sana.
Pada Tahun 1963..........
Murid-murid dengan semangatnya sekolah tempat yang bayak rusak itu sehingga apabila sedang belajar datang hujan dan angin, sehingga basah kuyuplah murid-murid itu semuannya dan dinding dinding yang bocor itu selalu disirima oleh air hujan, hannya dinding yang tidak bolong sepanjang 2 meter dan lebarnya 1 meter itulah yang menjadi papan tulis ketika itu dan kapur dan kapur hannya murid-murid yang bertanggung jawab, tulisan guru yang berada di papan tulis itu suda pudar semuanya diliputi air hujan, murid murid berkumpul di sudut mencari penaungan dimana tempat yang tidak kena titisan hujan menjelang hujan teduh, begitulah nasib murid ketika itu, datang hujan kehujanan, datang angin kedinginan,begitulah seterusnnya nasib murid yang sedang belajar ketika itu sampai tahun 1962.
Pada Tahun 1962............................
Gurunya Ibrahing Angku Kacik, Abdulah Jupen, Kamarudin Silago, Maria Kabatiah dan Rohama Angge, barulah diberi nama Iftidaiyah barulah belajar Iftidaiyah belajar selama 2 tahun lamanya barulah terbentuk sekolah SGB Muallimin Muhammadiyah tahun 1964 dengan murid 14 orang , 5 orang perempuan dan 9 orang laki-laki dengan gurunya Bapak Adin, Muslim Nur, Ibu Asma Salim, Badia dan hannya baru 1 lokal. Dengan kepengurusan : N.Dt. Gadang, Idris Dt, Sungguno, Aly Imran, Mas’ud Taher, burhan, Muktar Rauf, Dt. Rajo Penghulu, Baharudin, Pak Wali Abas, Mas’ud Engku Sutan, Anwarbai.
Pada tanggal 25-07 1963 suda memiliki Asrama yaitu suda ditetapkan di Surau Dt. H. Umar dan asrama putranya di surau Pasar pada tahun 1964 asrama putri pindah ke Surau Tinggi karena suarau itulah tempat belajar pertama kali oleh orang tua kita yang dulu dan asrama putra tetap disurau Pasar.
Dengan kerjasamanya pengurus pengurus dan mengadakan rapat khusus yang bertempat di rumah Maryam Aly Imran pada 06 Oktober 1964 dengan hasil keputusan rapat akan membuka sekolah yang lama dan di bangun sekolah yang baru, maka di buatlah momen yang tepat untuk mengumpulkan dana, selurus siswa dan siswa mengadakan hiburan malam dengan acara sandiwara 4 malam berturut turut dengan judul sandiwara Sebelum umar bin khatab masuk islam, dihadapakan Khalifah umar Bin Khatab, menjelang beduk berbunyi. Itulah Judul Sandiwara ketika itu.
Pada tanggal 02 Agustus 1965 berdirilah sekolah yang baru direncanakan bertingkat 2 di atas asrama Putri di bawah untuk sekolah di atas digunakan untuk unytuk kedai Lim Pulau dan tidak lama kemudian pindah untuk belajar sekolah yang masih terbangkalai itu. Tukang sedang belajar di atas sedangkan murid belajar di bawah, murit murit sangat gembira belajar karna suda ada lokal yang baru walaupun belum siap. Dan murid murid sangat senang dan antusias dalam nemenrima pelajaran dari guru gurunya, guru yang masuk kelas pada waktu itu TaswirAlif, Kasim dari sawahlunto, Adin, Syamsu, Nurni, Asiah, Asma Salim dan Badiah.
SGB Muallimin suda menjadi 4 lokal, disanalah murit murid dan guru memberi dan menerima pelajaran sampai sekolah siap, setelah lokal selesai murid muridpun bertambah bayak dan kebayakan juga murid nya dari luar Pulau Punjung, pada tahun 1966 Masyarakat Pulau Punjungdan sekitarnya mengadakan gontong royong (kerjasama) untuk mengiatka pendidikan di SGB Muallimin Muhamamdiyah itu yang dipimpin oleh Naim Dt. Gadang disinilah terdapat bayak suka dan dukanya, pada tahun 1970 SGB Muallimin Muhammadiyah di robah menjadi MTSsM Muhammadiyah Pulau Punjung dengan guru Asma Salim, Patimah Saleh, Syamsidar, Namida Aris, Zakiah, Badia’ah, Nur Asyiah, Umi Kalsum Sungai dareh, Adin, Lisun, Usman, Yurnalis, M. Zen, Mirwan, Rusda, Zainal Abidin, khaidir Nyaman dan Syamsuni.